KORANCERDAS.COM, LHOKSUKON – Ratusan rumah warga di Kecamatan Matangkuli, Sawang, dan Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (17/5/2018) pascasahur pertama puasa Ramadhan direndam banjir kiriman dari Bener Meriah, sehingga air sungai yang berada di tiga kecamatan itu meluap. Banjir juga merusak sejumah infrastruktur yang ada di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Banjir itu terjadi karena kawasan Bener Meriah yang bertetangga dengan Aceh Utara pada Rabu (16/5/2018) sore hingga malam diguyur hujan deras. Lalu air buangannya menyebabkan banjir di tiga kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara.

Pada Rabu (16/5/2018) dini hari, banjir juga merendam sejumlah desa di Kecamatan Paya Bakong lantaran Krueng Keureuto meluap. Namun, paginya mulai surut. Hanya di kawasan Matangkuli dan Tanah Luas yang air sungainya meluap. Khusus di Kecamatan Matangkuli banjir terparah dirasakan di Desa Alue Tho, Lawang, dan di Desa Tumpok Barat.

Tercatat sepuluh desa di kecamatan ini yang terendam, yakni Desa Alue Euntok, Tumpok Barat, Hagu, Alue Tho, Ceubrek Pirak, Lawang, Tanjung Haji Muda, Meunasah Siren, Meuria, dan Desa Parang Sikureung.
Siang kemarin debit air naik, bahkan jalan menuju ke Desa Lawang dan Desa Alue Tho tak bisa lagi dilalui, baik dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. “Kondisinya sangat memprihatinkan,” ujar Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Matangkuli Iptu Sudiya Karya kepada Korancerdas.com, Kamis (17/5/2018).

Disebutkan, warga sudah mulai memindahkan barang-barang peralatan rumah tangga dan hewan ternaknya ke tempat yang lebih tinggi. Ketinggian air rata-rata 40-60 cm, namun di Desa Lawang dan Alue Tho ketinggian air mencapai 1 meter. Begitupun, warga masih siaga di rumah masing-masing dan belum ada yang mengungsi.

Sedang dibongkar

Sementara itu, Aminah (40), warga Desa Alue Tho, kepada Serambi tadi malam menyebutkan, ia terpaksa mengungsi ke rumah familinya di Desa Rangkaya. Kecamatan Tanah Luas, karena rumahnya sedang dibongkar untuk dibangun rumah panggung guna mengantisipasi banjir.
“Karena sering kali banjir, sebelum Ramadhan rumah saya bongkar untuk dibangun satu kamar yang lebih tinggi, sehingga tak mudah terendam banjir. Jadi, saya tak bisa tinggal lagi di rumah yang sedang saya bongkar itu karena sudah terendam banjir dengan ketinggian air setinggi pinggang orang dewasa,” ujar Aminah kepada Serambi tadi malam.
Abdullah (42), warga ALue Tho juga menyatakan hal serupa. “Ketinggian air di dalam rumah saya masih setinggi pinggang orang dewasa. Saya berencana shalat Tarawih di masjid, karena jalan menuju ke meunasah juga terendam banjir setinggi setinggi paha orang dewasa,” ujar Abdullah.

Sementara itu, keluarga Abdullah sudah mengungsi ke rumah panggung milik orang tuanya di desa tersebut. “Kemungkinan warga di kawasan kami yang rumah terendam juga harus mengungsi ke rumah familinya, karena air belum surut sampai magrib tadi. Jika tidak mengungsi, mereka tak bisa memasak,” katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, Munawar, kepada Serambi kemarin menyebutkan, ketiga kecamatan di Aceh Utara direndam banjir lantaran hujan deras di Bener Meriah. Di Kecamatan Tanah Luas juga ada beberapa desa yang terendam banjir, misalnya Tanjong Masjid, Serbajaman, Rayeuk Kuta, Desa Blang, Desa Teupin Mee.

Lalu, di Kecamatan Matangkuli sepuluh desa terendam banjir dan di Kecamatan Sawang tiga desa. “Saya bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Utara, Edi Anwar, langsung ke Kecamatan Sawang setelah mendapat informasi ada infrastruktur yang dirusak banjir. Kerusakan tersebut sudah kami data untuk disampaikan kepada pimpinan,” kata Munawar.

Banjir kiriman di Kecamatan Sawang itu merusak bendungan, beronjong, dan badan jalan amblas, Ketiga desa yang terimbas banjir adalah Lhok Cut, Kubu, dan Blang Cut. Untuk Desa Kubu ada sekitar 60-an rumah yang sempat terendam, dengan ketinggian air di perkampungan mencapai 80 cm. Sedangkan di Desa Lhok Cut ketinggian air hanya 20 cm dan sempat mengenangi beberapa rumah saja. Terakhir, di Desa Blang Cut hanya beberapa rumah terendam. “Namun, tidak ada warga yang harus mengungsi,” ujar Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan, melalui Kapolsek Sawang Ipda Zahabi MSM. Ia tambahkan, siang kemarin banjir mulai surut.

Camat Sawang, Ibrahim SSos, menyebutkan, akibat banjir kiriman, banyak infrastruktur di tiga desa tersebut yang rusak. Rinciannya, di Desa Lhok Cut, beronjong sepanjang 120 meter di aliran Sungai Guci–tepatnya di dekat jembatan gantung–amblas. Lalu, jalan kecamatan juga amblas. “Untuk mobil ukuran minibus masih bisa melintas, walaupun harus ekstrahati-hati,” ujar Ibrahim.

Sedangkan di Desa Kubu, beronjong amblas sekitar 30 meter. Tarakhir, di Desa Blang Cut, bendungan irigasi amblas total. “Dengan rusak bendungan, tentu efeknya akan sangat besar, yakni bakal tergganggu sistem suplai air ke sawah masyarakat yang terletak di tiga desa tersebut,” demikian Camat Sawang. (***)

Sahur Pertama di Rumah Terendam

EKSES banjir yang merendam sejumlah desa di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, menyebabkan warga desa itu tak bisa melaksanakan shalat Tarawih di meunasah. Soalnya, ruas jalan menuju meunasah seperti Desa Alue Tho terendam banjir setinggi paha orang dewasa.

Banjir di kawasan itu mulai merendam sejumlah desa persis setelah warga di kawasan itu makan sahur pertama pada puasa Ramadhan tahun ini.
Sedangkan sebagian warga di Desa Blang, Meunasah Tanjong Masjid, dan Serbajaman mulai terendam banjir sebelum sahur, sehingga warga kesulitan untuk memasak sahur. Soalnya, bagian dapur mereka sudah terendam banjir, kecuali warga yang tinggal di rumah panggung.
“Saya bangun sahur sekitar pukul 04.00 WIB, saat itu air sudah berada di depan rumah,” katanya.

Sedangkan rumah tetangga sebagiannya sudah terendam banjir, sehingga mereka kesulitan memasak untuk persiapan sahur. “Kemungkinan kalaupun sempat memasak, harus memindahkan kompor ke tempat yang tinggi, karena dapur terendam. Air mulai meluap sekitar pukul 03.00 WIB,” katanya.
Camat Matangkuli menyebutkan, jalan menuju Keude Matangkuli kemarin sore mulai terendam banjir juga, misalnya di depan puskesmas. Namun, puskesmas tak sampai terendam karena posisinya lebih tinggi. “Tadi sore saya hubungi Keuchik Tumpok Barat. Dia mengaku air masih di atas lutut,” ujarnya. (***)